Sunday, June 19, 2011

Apa kepuasaannya..


Kepuasan pencarian ahli politik ialah kedudukannya, ahli perniagaan akan kejayaannya, ahli ilmu akan penambahannya, ahli syariat akan perlaksanaannya manakala ahli sufi ialah pertemuannya..



Tuesday, June 7, 2011

Puisi : Penyerahan


Engkau berdiri dengan sendiri

Engkau mutlak

tiada yang lain mampu mempengaruhi-Mu.

Engkau Maha Perkasa
Engkau kembangkan payung keperkasaan-Mu

melindungi yang lemah dan tidak berdaya

akulah yang lemah dan tidak berdaya itu

di bawah paying keperkasaan-Mu daku bernaung

Engkau sekali-kali tidak akan menolak

para hamba yang menyerah diri kepada-Mu.

Alangkah mudahnya
bila segala sesuatu diserahkan kepada-Mu

dan yakin Engkau menerimanya

Engkau tidak pernah letih atau lalai

tidak mengantuk tidak tidur

tidak bosan menguruskan hal hamba-hamba-Mu.

Wahai Pelindung diriku
penyerahan adalah kelapangan

penyerahan adalah kedamaian

penyerahan adalah Kesejahteraan.

Wahai Pelindung diriku
penuhilah hatiku dengan yakin

agar sekaliannya kembali kepada-Mu

tanpa sebarang sisa pada diriku.

Engkau gemar mendengar tutur-kata hamba-hamba-Mu
Engkau tidak jemu mendengar daku membebel

tiap ucapanku Engkau jawab

dengan kelembutan-Mu

wahai al-Latiff

kami para hamba sangat Engkau manjai

dengan kemaha-lembutan-Mu.

Sumber:tamansufi

Sesat..



Pepatah Melayu Lama: Sesat di hujung jalan balik ke pangkal jalan.

Pepatah orang yang pernah sesat: Sesiapa yang takut sesat tidak akan pergi, sesiapa yang tidak pergi tidak akan sampai, sesiapa yang tidak sampai tidak mendapat apa apa, kerana tiap-tiap pemergian adalah untuk mendapatkan sesuatu.

AQIDAH IMAM SYAFI'I (W 204 H) ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH

ANDA JANGAN TERKECOH OLEH AJARAN WAHHABI...!!!
Oleh : Abou Fateh

Aqidah Imam Syafi'i (w 204 h) - Allah Ada Tanpa Tempat Dan Tanpa Arah - 1

Imam asy-Syafi’i Muhammad ibn Idris (w 204 H), seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Syafi’i, berkata:

“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).

Dalam salah satu kitab karnya; al-Fiqh al-Akbar [selain Imam Abu Hanifah; Imam asy-Syafi'i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar], Imam asy-Syafi’i berkata:

“Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

Pada bagian lain dalam kitab yang sama tentang firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Imam asy-Syafi’i berkata:

“Ini termasuk ayat mutasyâbihât. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak --secara mendetail-- membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini --dan semua orang Islam-- adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

Secara panjang lebar dalam kitab yang sama, Imam asy-Syafi’i membahas bahwa adanya batasan (bentuk) dan penghabisan adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah. Karena pengertian batasan (al-hadd; bentuk) adalah ujung dari sesuatu dan penghabisannya. Dalil bagi kemustahilan hal ini bagi Allah adalah bahwa Allah ada tanpa permulaan dan tanpa bentuk, maka demikian pula Dia tetap ada tanpa penghabisan dan tanpa bentuk. Karena setiap sesuatu yang memiliki bentuk dan penghabisan secara logika dapat dibenarkan bila sesuatu tersebut menerima tambahan dan pengurangan, juga dapat dibenarkan adanya sesuatu yang lain yang serupa dengannya. Kemudian dari pada itu “sesuatu” yang demikian ini, secara logika juga harus membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam bentuk dan batasan tersebut, dan ini jelas merupakan tanda-tanda makhluk yang nyata mustahil bagi Allah.

SAYA TEGASKAN: Imam asy-Syafi’i, seorang Imam mujtahid yang madzhabnya tersebar di seluruh pelosok dunia, telah menetapkan dengan jelas bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, maka bagi siapapun yang bukan seorang mujtahid tidak selayaknya menyalahi dan menentang pendapat Imam mujtahid. Sebaliknya, seorang yang tidak mencapai derajat mujtahid ia wajib mengikuti pendapat Imam mujtahid.

Jangan pernah sedikitpun anda meyakini keyakinan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), seperti keyakinan kaum Musyabbihah, (sekarang Wahhabiyyah) yang menetapkan bahwa Allah bertempat di atas arsy. Bahkan mereka juga mengatakan Allah bertempat di langit. Ada di dua tempat?! Heh!!! Padahal mereka yakin bahwa arsy dan langit adalah makhluk Allah. Na’udzu Billahi Minhum.....

Monday, June 6, 2011

Siapa dia kaum Mujassimah?

KAUM MUJASSIMAH  
  1. Setengahnya beriktiqad: “Allah itu jauhar yang maujud”.
  2. Kata setengahnya: “Allah itu jisim tetapi tidak seperti jisim yang lainnya”.
  3. Setengahnya beriktiqad: “Allah berupa seperti rupa manusia”.
  4. Setengahnya beriktiqad: “Allah Ta’ala ada daging darah, ada muka, tangan, jari dan kaki”.
  5. Setengahnya beriktiqad: “Allah ada rupa tetapi tidak diketahui bagaimana rupa-Nya”.
  6. Setengahnya beriktiqad: “Allah datang, turun, naik, bergerak dan berpindah”.
  7. Setengahnya beriktiqad: “Allah duduk atas ‘Arasy”.
  8. Setengahnya beriktiqad: “Allah masuk pada Arasy, dan Arasy tempat kediaman-Nya”. Kata Imam Fakhrud-Din al-Razi kaum yang memahami ayat mutasyabihat secara zahir lafaz demikian menjadi kafir kerana disabitkan bagi Allah jisim dan jisim itu disembahnya.

Kata Imam Ahmad: “Sesiapa yang mentasybihkan Allah dengan makhluk menjadi kafir.

Ini diikuti dengan larangan mengikut kaum yang bid’ah dengan dibawa beberapa maksud hadith. Kemudian dibahagikan bid’ah itu kepada pembahagian mengikut hukum yang lima (5) mengikut huraian Syaikh ‘Izzuddin Ibn ‘Abdus-Salam. Juga diikuti dengan contoh-contoh bid’ah. Kemudian dibicarakan juga masalah-masalah berhubungan dengan jin dan hukum tentang murtad dan taubat serta jenis-jenis dosa anak Adam. (hlm 19-28).

Sumber : Artikel PENDIDIKAN DAN DAKWAH 
SYAIKH ARSYAD AL-BANJARI (SIRI II) AKHIR 
- Ustaz Sidi (April,2011)

Friday, June 3, 2011

Sebutlah nama Allah...




"Jangan tahan lidahmu menyebut nama Allah..

Jangan berat menyebut nama Allah..

Dosa apa yang membuat lidah kita berat menyebut nama Allah...
"

Wednesday, June 1, 2011

Zahir & Batin Solat

Kemudian, maka adalah bagi sembahyang itu adalah baginya rupa yang zahir yang sempurna. Maka iaitu syaratnya seperti rohnya. Maka rukunnya seperti kepalanya dan badannya. Dan sunat ab‟adh itu seperti anggotanya. Dan sunat haiah itu seperti bulu perhiasannya. Dan ada baginya rupa hakikat yang batin. Dan tiada sempurna bagi sembahyang dan tiada tamamnya ( - sempurna sembahyang) melainkan dengan mendirikan ia dengan keduanya (zahir dan batin) sekali. 

Maka adapun rupanya yang zahir, maka iaitu seperti berdiri, dan takbir, dan membaca Fatihah, dan ruku', dan i'tidal , dan dua sujud, dan duduk antara keduanya, dan duduk tasyahhud , dan tahiyyat , dan salam. Inilah daripada segala rukun yang zahir dan sunatnya dan syaratnya. 

Adapun hakikat yang batin, maka seumpamanya khusyu' dan hadir hati dan sempurna ikhlas, dan tazallul ( - menghinakan diri di hadapan Allah), dan tafahhum ( - memahami) bagi ma'ani qira'ah ( - makna-makna bacaan), dan tasbih dan lainnya daripada segala wazifah ( - pekerjaan) sembahyang yang batinah. 

Maka zahir sembahyang bahagian badan dan anggotanya. Dan batin sembahyang bahagian hati dan sir. Dan demikian itu, tempat tilik hak Allah daripada hambaNya, iaitu hati dan sir. 

Kata Imam Ghazali : “Umpama orang yang mendirikan rupa sembahyang yang zahirnya jua dan lalai ia daripada hakikatnya yang batin, seperti umpama seorang menghadiahkan bagi raja yang amat besar darjatnya akan seorang dayang yang mati tiada roh baginya. Dan seumpama orang mentaqsir (tidak mengamat-amati atau cuai) pada mendirikan zahir sembahyang, seumpama ia menghadiahkan kepada raja akan seorang dayang yang terpotong anggotanya dan ketiadaan dua matanya. Maka adalah ia orang yang menghadiahkan ini dan yang dahulunya melentangkan keduanya itu akan diri keduanya bagi raja itu seksa dan murkanya dan marahnya, kerana keduanya itu menghinakan bagi hormat (kemuliaan) kerajaannya dan meringankan oleh keduanya dengan hak kerajaan.”

Kitab Munyatul Musolli  
(Cita-Cita Orang Yg Bersembahyang) 
- Tuan Syeikh Daud ibn 'Abdullah Al-Fatoni

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails